Hal ini berawal dari agenda kegiatan disekolahku yang setiap tahunnya melaksanakan lomba pemilihan
siswa berprestasi, dan saya diberi
kepercayaan oleh pihak sekolah untuk menjadi anggota tim dewan juri penilaian kegiatan tersebut dengan kriteria kriteria
penilaian yang sudah ditentukan oleh sekolah dan dewan juri yaitu:
a.
Uji akademik
b. Portofolio (piagam
penghargaan dan bukti mendapat nilai akademik di atas KKM )
c.
Cipta karangan yang bertema ”Aku Pantas Menjadi Siswa Berprestasi”
d. Mempresentasikan ”Aku Pantas Menjadi Siswa Berprestasi”
e.
Memperlihatkan Hasil Karya/Media yang dicipta
Ada
tiga tahapan yang kami lakukan ketika
pelaksanan lomba:
a.
Melaksanakan tes
tertulis untuk mapel Bahasa Inggris,
Bahasa Indonesia , MIPA Agama, PPkN, Muatan lokal Bahasa Daerah
b. Penilaian Portofolio dan Hasil Karya/Media
c.
Penilaian tulisan
“Aku Pantas Menjadi Siswa Berprestasi” dan presentasi Hasil Karya “Aku Pantas
Menjadi Siswa Berprestasi”.
Pada Hari pelaksanaan,
uji akademik. acara dibuka oleh kepala
sekolah banyak hal yang beliau sampaikan berkenaan dengan kegiatan lomba dan
harapan- harapan yang ingin dicapai
dengan pemilihan siswa berperestasi
disekolah kami, beliau menjelaskan bahwa semua peserta saat ini sudah menjadi
siswa yang berprestasi, namun sekolah harus memilih satu yang terbaik dari yang
baik. Selain itu beliau juga menyampaikan kepada seluruh peserta bahwa kegiatan lomba tidak hanya ditujukan kepada siswa, tapi juga
kepada seluruh dewan guru, untuk pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten.
Beliau mengatakan bahwa aku menjadi perwakilan dari dewan guru yang akan mengikuti
lomba di kabupaten tahun 2012.
Tahap demi tahap kegiatan lomba kami
laksanakan. Semua berjalan sesuai dengan acuan dan harapan. Ada 23 orang peserta yang terdiri
dari siswa kelas 7,8, dan 9. Salah satu dari peserta tersebut adalah siswa kelas 9 yang bernama Tri Ayu Romandani. Dia
adalah siswa yang berpenampilan anggun
dan menarik, berkulit putih dengan rambut ikal dan sedikit manja. Aku biasa
memanggilnya Ayu. Ayah dari bungsu tiga bersaudara ini adalah seorang
Kepala SD dan ibunya adalah seorang ibu
rumah tangga. Dalam pelajaran matematika dia termasuk siswa yang berprsetasi, walaupun
tidak pernah mewakili sekolahnya di Olimpiade kabupaten, nilainya selalu berada
di atas KKM dan ia juga tidak pernah melalaikan tugasnya.
Pada saat mempresentasikan hasil karya
”Aku Pantas Menjadi Siswa Berperestasi, Ayu berbicara dengan lancar di depan
dewan juri, setiap pertanyaan yang diberikan dewan yuri disambutnya dengan
senyum yang lugu dan penuh keanggunan. Bahkan kadang ia tertawa kecil, membuat
dewan juri dan peserta lomba lainnya juga terbius oleh tawanya. Hal yang paling
berkesan bagiku, ketika ia dengan bangga memenuhi permintaan salah satu dewan juri
untuk menyanyikan lagu kebangsaan
Indonesia Raya.
Saat melakuan penilaian, aku baru menyadari
bahwa Ayu adalah salah satu peserta yang
memilki bakat dan kemampuan di luar akademik. Si manis ini ternyata
berbakat dibidang lukis, ia bahkan menjadi peserta lomba lukis yang mewakili
kabupaten untuk perlombaan di tingkat
provinsi. Ayu yang bagiku terlihat sangat polos dan anggun ternyata anak yang
luar biasa, ia mampu membuat karya dari tanah liat dan lukisan dari daun
kering. Walaupun pada akhirnya, Ayu hanya berada diposisi ke-7.
Saat pengumuman pemenang, kami
(seluruh guru) terfokus pada pemenang pertama. Aku bahkan sudah lupa akan sosok
Ayu Romandani yang anggun dan menarik
tapi manja. Aku lupa lukisan-lukisannya, bahkan tawa kecilnya yang pernah
membuatku merasa bahagia. Karena setelah itu, komunikasiku dengannya hanya
terjadi pada saat pembelajaran. Tidak ada lagi pertanyaanku tentang lukisan-lukisan
indah yang ia ciptakan dengan jari jemari lentiknya. Bersamaan dengan itu, kami
sudah mulai fokus pada persiapan pelaksanaan Ujian Sekolah dan Ujian Nasioanl.
Ujian telah berakhir dengan lancar.
Ayu lulus dengan prestasi akademik yang memuaskan, namun aku tetap melupakan
Ayu dengan segala prestasinya. Hingga akhirnya aku tersentak ketika Ayu Romandhani
menemuiku di kantor dan menjabat tangganku seraya berkata, “Bagaimana dengan
lomba guru berpersetasinya, Bu?” Dengan senyum ringan kujawab pertanyaan Ayu,
”Ibu tidak pantas berprestasi, karena ibu tidak punya prestasi seperti kalian.”
Tapi Ayu malah berkata, ”Ibu sudah juara bagiku.” Kata-kata yang terlontar dari
mulutnya terdengar sederhana namun mampu mengetuk diding hatiku dan
meninggalkan jejak yang manis pada sendi-sendi ingatan yang selalu aku simpan
hingga kini.
Innalillhiwainnailaihirojiun, aku
menerima telepon dari Bapak Kusnadi S,Pd., Ayu Romandani telah berpulang ke
Rahmatullah setelah beberapa hari menderita penyakit asma. Aku hanya mampu
menarik napas panjang dan bergegas
menuju di kediamannya, kutatap wajahnya yang tersenyum manis. Lukisan-lukisan
indah yang menghiasi dinding rumahnya , benda-benda dari tanah liat yang terpajang
di pojok rumahnya, lukisan dari daun kering yang menempel di sudut kamarnya.
Kini Ayu Romadhani telah
meninggalkanku. Kini, aku tak lagi dapat melihat Ayu yang lugu, Ayu yang dengan
tawa kecilnya mampu membuatku terbawa. Ayu yang dengan segala prestasinya− yang
telah terlewat dari ingatanku− mampu menorehkan sesal yang cukup dalam
dihatiku. Mengapa aku tidak memiliki hati seluas ayu, agar aku mampu menghitung
luasnya hamparan lukisannya, agar aku mampu menakar volume semua bangun ruang
yang ia ciptakan, membuat arsiran-arsiran indah pada lukisan daun-daun kering
yang menghiasi dinding rumahnya? Mengapa aku hanya bermain rumus matematika di dalam
kelas dengannya? Padahal Ayu telah menjadikanku seorang figur guru matematika yang “
juara” dalam hidupnya. Andai saja aku memiliki hati seluas Ayu, mungkin aku
bisa membawa ayu ke Olimpiade Matematika
Nasional.
Tapi apalah daya ketika Yang Kuasa
telah menetapkan takdirnya dan kini Ayu telah meninggalkanku. Aku percaya
selalu percaya pada keputusan yang Maha Kuasa. Ia punya tempat yang terbaik
untuk Ayu, disisinya. Dan aku sangat percaya ada hikmah dari semua ini, mengajar
matematika tidak selamanya menggunakan rumus dan angka, keteladanan, perhatian,
dan kasih sayang adalah hal yang terpenting untuk menjalin sebuah komunikasi
yang baik serta membentuk karakter siswa.
Dari hatiku yang paling dalam, bersama doa dan kata
syukur yang tiada hentinya, hanya kata ini yang mampu aku ucapkan untuk inspirasi
untuk berbuat yang terbaik dan ibu telah memenuhi keinginanmu. Alhamdulillah
ibu telah mengikuti lomba guru berprestasi di tingkat kabupaten”.