Sabtu, 16 April 2016

Aku Tidak Memiliki Hati Seluas Dia



         Hal ini berawal dari  agenda  kegiatan disekolahku  yang setiap tahunnya  melaksanakan   lomba pemilihan siswa berprestasi, dan  saya diberi kepercayaan oleh pihak sekolah untuk  menjadi anggota  tim  dewan juri penilaian  kegiatan tersebut dengan kriteria  kriteria  penilaian yang sudah ditentukan oleh sekolah dan  dewan juri  yaitu:
a.   Uji akademik
b.   Portofolio (piagam penghargaan dan bukti  mendapat  nilai akademik di atas KKM )
c.   Cipta  karangan   yang bertema ”Aku Pantas Menjadi Siswa Berprestasi”
d.  Mempresentasikan ”Aku Pantas Menjadi Siswa Berprestasi”
e.    Memperlihatkan Hasil Karya/Media yang dicipta
Ada tiga tahapan yang  kami lakukan ketika pelaksanan lomba:
a.   Melaksanakan tes tertulis untuk  mapel Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia , MIPA Agama, PPkN, Muatan lokal Bahasa Daerah
b.  Penilaian Portofolio dan Hasil Karya/Media
c.   Penilaian tulisan “Aku Pantas Menjadi Siswa Berprestasi” dan presentasi Hasil Karya “Aku Pantas Menjadi Siswa Berprestasi”.
 Pada Hari pelaksanaan, uji akademik. acara dibuka oleh  kepala sekolah banyak hal yang beliau sampaikan berkenaan dengan kegiatan lomba dan harapan- harapan  yang ingin dicapai dengan  pemilihan siswa berperestasi disekolah kami, beliau menjelaskan bahwa semua peserta saat ini sudah menjadi siswa yang berprestasi, namun sekolah harus memilih satu yang terbaik dari yang baik. Selain itu beliau juga menyampaikan kepada seluruh peserta bahwa  kegiatan lomba  tidak hanya ditujukan kepada siswa, tapi juga kepada seluruh dewan guru, untuk pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. Beliau mengatakan bahwa aku menjadi perwakilan dari dewan guru yang akan mengikuti lomba di kabupaten tahun 2012.
          Tahap demi tahap kegiatan lomba kami laksanakan. Semua berjalan sesuai dengan  acuan dan harapan. Ada 23 orang peserta yang terdiri dari siswa kelas 7,8, dan 9. Salah satu dari peserta tersebut adalah siswa  kelas 9 yang bernama Tri Ayu Romandani. Dia adalah siswa   yang berpenampilan anggun dan menarik, berkulit putih dengan rambut ikal dan sedikit manja. Aku biasa memanggilnya Ayu. Ayah dari bungsu tiga bersaudara ini adalah seorang Kepala  SD dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Dalam pelajaran matematika dia termasuk siswa yang berprsetasi, walaupun tidak pernah mewakili sekolahnya di Olimpiade kabupaten, nilainya selalu berada di atas KKM dan ia juga tidak pernah melalaikan tugasnya.
          Pada saat mempresentasikan hasil karya ”Aku Pantas Menjadi Siswa Berperestasi, Ayu berbicara dengan lancar di depan dewan juri, setiap pertanyaan yang diberikan dewan yuri disambutnya dengan senyum yang lugu dan penuh keanggunan. Bahkan kadang ia tertawa kecil, membuat dewan juri dan peserta lomba lainnya juga terbius oleh tawanya. Hal yang paling berkesan bagiku, ketika ia dengan bangga memenuhi permintaan salah satu dewan juri untuk  menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
          Saat melakuan penilaian, aku baru menyadari bahwa Ayu adalah salah satu peserta yang  memilki bakat dan kemampuan di luar akademik. Si manis ini ternyata berbakat dibidang lukis, ia bahkan menjadi peserta lomba lukis yang mewakili kabupaten  untuk perlombaan di tingkat provinsi. Ayu yang bagiku terlihat sangat polos dan anggun ternyata anak yang luar biasa, ia mampu membuat karya dari tanah liat dan lukisan dari daun kering. Walaupun pada akhirnya, Ayu hanya berada diposisi ke-7.
          Saat pengumuman pemenang, kami (seluruh guru) terfokus pada pemenang pertama. Aku bahkan sudah lupa akan sosok Ayu Romandani yang  anggun dan menarik tapi manja. Aku lupa lukisan-lukisannya, bahkan tawa kecilnya yang pernah membuatku merasa bahagia. Karena setelah itu, komunikasiku dengannya hanya terjadi pada saat pembelajaran. Tidak ada lagi pertanyaanku tentang lukisan-lukisan indah yang ia ciptakan dengan jari jemari lentiknya. Bersamaan dengan itu, kami sudah mulai fokus pada persiapan pelaksanaan Ujian Sekolah dan Ujian Nasioanl.
          Ujian telah berakhir dengan lancar. Ayu lulus dengan prestasi akademik yang memuaskan, namun aku tetap melupakan Ayu dengan segala prestasinya. Hingga akhirnya aku tersentak ketika Ayu Romandhani menemuiku di kantor dan menjabat tangganku seraya berkata, “Bagaimana dengan lomba guru berpersetasinya, Bu?” Dengan senyum ringan kujawab pertanyaan Ayu, ”Ibu tidak pantas berprestasi, karena ibu tidak punya prestasi seperti kalian.” Tapi Ayu malah berkata, ”Ibu sudah juara bagiku.” Kata-kata yang terlontar dari mulutnya terdengar sederhana namun mampu mengetuk diding hatiku dan meninggalkan jejak yang manis pada sendi-sendi ingatan yang selalu aku simpan hingga kini.
          Innalillhiwainnailaihirojiun, aku menerima telepon dari Bapak Kusnadi S,Pd., Ayu Romandani telah berpulang ke Rahmatullah setelah beberapa hari menderita penyakit asma. Aku hanya mampu menarik napas panjang  dan bergegas menuju di kediamannya, kutatap wajahnya yang tersenyum manis. Lukisan-lukisan indah yang menghiasi dinding rumahnya , benda-benda dari tanah liat yang terpajang di pojok rumahnya, lukisan dari daun kering yang menempel di sudut kamarnya.
          Kini Ayu Romadhani telah meninggalkanku. Kini, aku tak lagi dapat melihat Ayu yang lugu, Ayu yang dengan tawa kecilnya mampu membuatku terbawa. Ayu yang dengan segala prestasinya− yang telah terlewat dari ingatanku− mampu menorehkan sesal yang cukup dalam dihatiku. Mengapa aku tidak memiliki hati seluas ayu, agar aku mampu menghitung luasnya hamparan lukisannya, agar aku mampu menakar volume semua bangun ruang yang ia ciptakan, membuat arsiran-arsiran indah pada lukisan daun-daun kering yang menghiasi dinding rumahnya? Mengapa aku hanya bermain rumus matematika di dalam kelas dengannya? Padahal Ayu telah menjadikanku  seorang figur guru matematika  yang  “ juara” dalam hidupnya. Andai saja aku memiliki hati seluas Ayu, mungkin aku bisa membawa ayu ke Olimpiade  Matematika Nasional.
          Tapi apalah daya ketika Yang Kuasa telah menetapkan takdirnya dan kini Ayu telah meninggalkanku. Aku percaya selalu percaya pada keputusan yang Maha Kuasa. Ia punya tempat yang terbaik untuk Ayu, disisinya. Dan aku sangat percaya ada hikmah dari semua ini, mengajar matematika tidak selamanya menggunakan rumus dan angka, keteladanan, perhatian, dan kasih sayang adalah hal yang terpenting untuk menjalin sebuah komunikasi yang baik serta membentuk karakter siswa.
Dari hatiku yang paling dalam, bersama doa dan kata syukur yang tiada hentinya, hanya kata ini yang mampu aku ucapkan untuk inspirasi untuk berbuat yang terbaik dan ibu telah memenuhi keinginanmu. Alhamdulillah ibu telah mengikuti lomba guru berprestasi di tingkat kabupaten”.
         



4 komentar:

  1. Ibu...
    Terimakasih sudah ingat kan sedikit cerita manis tetang Dia.
    Teman yg selalu bahagia dengan tawanya yg khas dan seyum yg manis..
    Merindukan kenangan indah bersamanya.
    Terimakasih bu.
    Keren...

    Semoga ibu selalu dalam kindungan Allah SWT. Sehat selalu bu..amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih nanda Yuda,titip rindu ibu untuk kalian semua,semoga selalu dalam lindunganNya

      Hapus
  2. @ Bu Rini ,just memories, but sometimes so inspiring if d recalled again,( hehehehe umpatan belajar bahasa ingris bu,bila salah harap dimaklumi )

    BalasHapus